kursus komputer

Sastra

Mencari Jati Diri Mahasiswa

Sastra | , 16 Oktober 2014,

  [caption id="attachment_4322" align="aligncenter" width="300"]Kegiatan Kemahasiswaan di SC Dok. Media Center STAN[/caption] Gelar siswa yang disandang selama 12 tahun, akhirnya terlindas oleh status mahasiswa. Kata “maha” menjadikan level seseorang naik menuju ruang keistimewaan dalam ranah akademik maupun sosial masyarakat. Karena itu, tuntutan sebagai mahasiswa adalah menghindari egoisitas diri demi memikirkan kegunaan diri bagi lingkungan. Beberapa karakter khusus secara langsung atau tidak, perlu dikembangkan untuk memunculkan identitas mahasiswa yang responsif terhadap tuntutan masyarakat. Menurut Rudi Salam Sinaga, seorang kolomnis di kompas.com, kehidupan mahasiswa sangat dipengaruhi oleh dunia kampus, tempat mereka mentasbihkan diri sebagai kaum intelektual. Memang tidak dapat dipungkiri, sistem pendidikan juga dapat membentuk karakter mahasiswa yang mayoritas sedang bersiap ke masa kerja. Pendidikan karakter dan akademik harus ada dan seimbang, mengingat pendidikan adalah asal dari semua perubahan yang ada. Mahasiswa akan semakin berkembang dengan mencari berbagai sumber yang akan menambah pengetahuan mereka. Data United Nations Educational Scientihfic and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2005 menunjukkan bahwa pendidikan merupakan faktor terpenting dalam kehidupan manusia. Mahasiswa akan mulai mempelajari segala hal yang berkaitan dengan kehidupan nyata, dalam ranah pendidikan, intelektualitas, dan rasionalitas. Sukses tidaknya pencapaian mahasiswa bisa di lihat sejauh mana perkembangan dari segi prestasi maupun wawasan pribadi, kampuslah yang menjadi wadah pergerakan mahasiswa akan menjadi saksi perkembangan mahasisiwa saat mereka belajar dan bersosialisasi. Lebih lanjut, Herbert W. Simons (1984) menggolongkan gerakan semacam ini sebagai gerakan ekspresif, yaitu gerakan komunal dengan cara mengubah masyarakatnya. Komunitas dapat dijadikan batu pijakan mahasiswa untuk mencapai perubahan. Sense of belonging dari setiap anggota sangat diperlukan sehingga nantinya melahirkan tanggung jawab penuh atas pencapaian tujuan yang disepakati komunitas. Mahasiswa pun harus fokus pada substansi dan tujuan gerakan-gerakan sosial, yakni berkontribusi. Masa kuliah adalah proses mencari dan menemukan. Perbedaan proses adaptasi yang dialami oleh seseorang merupakan suatu proses pencarian yang akan dialami seumur hidup. Mereka akan melakukan proses tersebut secara terus menerus untuk menemukan jati dirinya. Tidak ada manusia yang diciptakan sebagai manusia “selesai” yang tidak memiliki hasrat untuk berkembang dan mengembangkan diri. Cari dan temukan lingkungan ideal yang membuat passion diri terakomodasi. Kita percaya bahwa setiap zaman melahirkan generasi, dan setiap generasi harus menghadapi permasalahannya sendiri. Begitu pun dinamika gerakan mahasiswa, ia menyesuaikan diri dengan tuntutan zamannya. Jumlahnya mungkin tak banyak bila dibandingkan dengan penghuni kampus lainnya. Mahasiswa yang bergabung dalam pergerakan aktivis pun bisa dibilang kaum minoritas sehingga dampak yang ditimbulkan juga belum bisa digolongkan masif. Namun, ada sedikit pembuktian bahwa gading pendidikan belum sepenuhnya membuat seseorang terasing dari persoalan nyata di tengah masyarakat. Akhirnya pilihan ada pada pribadi masing-masing mahasiswa, pilihan untuk berkontribusi lebih dalam menghadapi perubahan atau hanya menunggu perubahan.

[Abdurrahman Imam Prasetyo]

Nama:
Email:
Komentar:
   
Catatan : Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Kirim Komentar Anda

berikut ini adalah kumpulan komentar dari artikel ini

Media Center STAN