kursus komputer

Kemenkeu

Korupsi: Risiko Tak Sebanding Perbuatan

Achmad Santosa, Anggota Satgas Pemberantasan Korupsi, menekankan pentingnya pembenahan di semua unsur proses pemberantasan korupsi. Hal ini dimaksudkan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat menjalankan fungsinya sebagai instrumen pemberantas korupsi yang dapat diandalkan masyarakat dan pemerintah. Hal ini disampaikan Achmad kepada Media Center Sabtu (11/12) di tengah acara Reborn.

Achmad juga menekankan pentingnya peran pimpinan KPK untuk membawa lembaga itu melaksanakan tugasnya. Menurutnya, KPK belum memiliki frame besar untuk membuat kebijakannya. Namun, ia mempercayakan harapan di pundak pimpinan KPK sekarang, Busyro Muqoddas. "Saya melihat Busyro akan membangun frame atau konsep besar mengenai sistem kepemimpinan dan sistem tata kelola keuangan negara yang transparan, profesional dan akuntabel. Kita berharap semoga itu semua dapat terwujud," ujar Achmad.

Berkaitan dengan pembangunan konsep itu, Achmad mengatakan, saat ini risiko korupsi masih kecil, tidak sebanding dengan perbuatannya. "Saya tidak setuju dengan orang-orang yang berpikir bahwa korupsi merupakan suatu usaha. Sekarang, mungkin risikonya masih kecil, tapi kita lihat nanti," katanya. Ketika dimintai pendapatnya tentang evaluasi kepemimpinan KPK sebelumnya yang diketuai oleh Antasari Azhar, Achmad enggan untuk memberikan komentar. "Saya nggak mau kasih pendapat, dia sudah tidak di situ lagi, masa saya memberikan komentar kepada orang yang nggak ada lagi," ungkapnya.

Tentang Gayus

Mengenai pengakuan Gayus yang mengatakan bahwa mafia hukum di Direktorat Jenderal Pajak adalah hal yang wajar (Metro TV, 11/12 ), Achmad Santosa berpendapat, Munculnya kekhawatiran masyarakat, apakah Gayus akan mendapatkan risiko kecil atas perbuatannya, itu wajar. Mungkin keraguan itu muncul (karena) sikap instrumen penyelidiknya yang terlihat kurang mumpuni. Tetapi percayalah, semua ada prosesnya.

Sementara, dari sudut pandang akademisi, Kusmanadji berpendapat, Normalnya, kalau orang memberikan jasa, ada feedback. Tetapi, itu menjadi tidak wajar karena posisi Gayus sebagai pegawai negeri. Ia memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan tugasnya."Saya tidak tahu mengapa kata-kata itu bisa muncul dari Gayus. Apakah memang kebiasaan di lingkungan kerjanya, sehingga (kata-kata itu) keluar. Mungkin, mereka pikir karena telah melakukan sesuatu, mereka berhak atas sesuatu," pungkasnya.

[Irfan Syofiaan]

 

Nama:
Email:
Komentar:
   
Catatan : Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Kirim Komentar Anda

berikut ini adalah kumpulan komentar dari artikel ini

Media Center STAN