kursus komputer

Sastra

CERPEN: Karena Kertas

Sastra | Minggu, 28 Juni 2015, 22:26:36

blog.djarumbeasiswaplus.org

Mataku masih terkantuk dalam balutan selimut tipis, mentari terik telah memaksaku keluar dari selimut itu. Tubuh lunglaiku mulai bergerak, dan masih mendiamkan  diri sejenak. Dengan cepat aku meraih handphone, lalu sambil membuka laptop. Mulai terlarut lagi di dalamnya. Entah berapa jam yang kuhabiskan, berada di depan layar yang semu ini, mengerjakan dan mengejar sesuatu yang tidak aku ketahui akan menjadi apa. Tiada henti aku melakukannya, menggerakkan pena ini di atas lembaran yang disebut kertas.

Kertas-kertas itu sudah terisi setengah halaman, dua belas jam waktu yang terhabiskan hanya untuk mengisi setengah halaman kertas. Dua belas jam melayang begitu cepatnya, membawa terbang otak-otakku untuk terus melihat apa yang berada di dalam slide, dan di dalam buku yang setebal 7 cm itu. Mata merasakan keperihan yang tak tertahankan, sering kali ia meminta untuk berhenti, tak sanggup menahankan keperihan. Perut pun mulai berbicara, terus meneriaki untuk mencari perhatian. Dan tubuh ini juga sudah terasa kaku, tak sanggup untuk berdiam diri bersama kertas ini lagi. Aku menghentikan aktivitas, lalu membuka penghambat itu untukku melihat dunia. Mataku terasa kaku dan belum terbiasa dengan suasana ini, lalu langkahan kaki mulai terhentakkan, terus menelusuri jalan ini.

Langit telah berubah warna menjadi oranye, sudah hampir dua belas jam aku berada di dalam sangkarku. Otakku masih merindukan kertas itu, tak jarang ia meminta untuk kembali ke sangkar itu segera, namun hati berdebat dengan otak, tidak setuju dengan apa yang diminta oleh sang otak. Mata ini mulai tertuju dengan apa yang tengah berada di hadapannya. Mulai mengikuti kemauan hati dan mengabaikan si otak yang terus menjerit menceritakan kertas itu.

Orang-orang berdesakan satu sama lain, tak jarang klakson mobil mereka membuat telinga ini kesal. Begitu banyak hal yang tidak dapat kumengerti, mereka tidak sepertiku pada umumnya, yang hanya dikejar oleh yang namanya kertas. Aku masih terus berjalan menuruti kemauan perut ini, lalu berhenti di sebuah warung. Aku memesan makanan yang biasa kukonsumsi, walau sering kali lidah ini sangat tergiur dengan makanan yang lebih mewah, namun kulihat uang yang ada di tangan hanya selembar berjumlah sepuluh ribu. Seperti biasanya, tahu dengan sayuran mengumpat si perut.

Langit telah berubah menjadi gelap, aku melangkah untuk pulang. Kulihat jalanan masih ramai, tak jarang suara-suara yang tidak mengenakkan hati terdengar. Dua insan berlainan jenis dengan mesranya saling berpelukan di atas motor. Entah apa, aku tidak mengerti dengan semua ini, bagaimana bisa aku hanya terfokus pada benda yang berwarna putih bergaris, apa mungkin aku telah gila yang hanya terobsesi dengan sebuah kertas. Dunia luar itu memang sangat indah dan bahagia, bahkan aku telah lupa kapan terakhir kalinya aku bermain dan menghabiskan keseharianku untuk merasakan sentuhan hati, bukan sentuhan dan permainan si otak, yang terus berbicara pada kertas semu.

 Kubuka pintu penghambat itu lagi, sepi tak ada suara, gelap gulita, tanpa cahaya. Aku memasukinya lagi, seolah telah terbiasa dengan semua ini. keheningan, otak dan jiwaku menjelma menjadinya. Dan kulanjutkan lagi aktivitas yang tertunda tadi. Lembaran-lembaran kertas itu kembali menemani malamku, dan suara yang berdentang ‘tik’ itu berbicara dalam diamku. Hingga malam larut, dan aku terlelap menyerah dengan semua godaan malam. Lembaran kertas itu kini terdiam, dan tidak ada lagi suara ketikan yang terdengar, semua telah beranjak menuju dunia yang lain

Keesokan harinya, aku melangkahkan kakiku menuju tempat yang disebut sebagai tempat yang terhormat, tempat orang-orang mewujudkan masa depannya agar menjadi orang yang berguna. Itulah pengertian yang aku dapat dari tempat yang sedang aku tuju sekarang ini. Tempat dimana aku harus selalu berteman dengan kertas dan pena, dan memfokuskan otakku ke dalam pena agar dapat memuaskan lembaran kertas.

Aku membuka lembaran kertas-kertas yang menemaniku tadi malam. Kuraih bangku untuk tempatku berdiam diri, lalu meletakkan kertas itu di atas mejaku. Segerombolan yang lain pun datang. Saling menyapa satu sama lain, lalu bertanya tentang lembaran kertas. Sebagian ada yang berlari tergesa-gesa, hingga nafasnya terpenggal-penggal, langsung menanyakan tentang keadaan kertas yang kini berserakan di meja. Ia meraih lalu menulis apa yang ada di dalamnya. Aku mulai menanyakan kepada naluriku, kenapa kertas ini begitu penting, hingga sampai membuat wajah-wajah itu berbeda bentuk.

Lalu seseorang pun datang, membuat suasana ruangan ini menjadi diam, sunyi, dan hening seolah tak seorang pun yang berada di ruangan ini, kecuali suara kertas itu yang berbisik pelan. Lalu orang itu pun menagih satu per satu kertas yang berada di atas setiap meja. Ia mengamati dan menganalisis setiap lembarnya, lalu sebuah pena mulai digerakkannya di atas kertas itu. Wajah yang hanya menunjukkan rasa penasaran, pesimis, percaya diri dan perasaan yang biasa itu, muncul lagi, karena lembaran kertas itu.

Pena itu pun berhenti bekerja, dan kertas kembali mencari pemiliknya. Setiap hari orang itu selalu membicarakan tentang apa yang harus dituangkan oleh sang pena ke dalam kertas. Ia menghabiskan dua jam setengahnya hanya untuk menggerakkan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu agar dapat menuangkan apa yang ia inginkan ke dalam kertas itu lagi.

Setiap hari tiada tanpa kertas, setiap hari yang ditanyakan di dalam ruangan ini adalah kertas, setiap hari kertas itu mengubah suasana hati, setiap hari kertas itu menciptakan segala-galanya di tempat ini. Orang-orang yang berada di sini pada umumnya, datang dan pergi menceritakan sang kertas. Kertas adalah prioritas dari tempat ini, prioritas dan tujuan utama dari orang-orang yang berada di tempat ini. Dan segala hal yang menentukan posisi terbaik di tempat ini.

Hanya karena secarik yang dinamakan kertas, orang-orang di sini merelakan dan menghabiskan waktunya, menunda waktunya untuk mendengarkan hati, menunda waktunya untuk mengikuti kata naluri, dan terus membiarkan si otak memberontak untuk bercerita tentang kertas-kertas itu. Ketidakpuasan kerja si otak membuat hati jengkel hanya karena kertas itu. Tak jarang otak dan hati berdebat hanya karena kertas, tak jarang hati menolak dan hanya membiarkan si otak yang keras menuruti kemauan sang kertas.

Dan karena kertas itu, aku di sini. Konon katanya, kertas itu akan mengubah segalanya, mengubahku menjadi orang yang berguna. Karena ajaran dari apa yang tertuang di dalam kertas disampaikan oleh orang yang belajar dari kertas juga. Semua bersumber dari kertas, untuk kertas, dan oleh kertas. Itulah gambaran tempat ini, tempat yang katanya akan memproduksi orang-orang yang berguna, hanya karena selembar yang dinamakan dengan kertas.

Aku terus bermain dengan kertas ini, dan membiarkan diriku terhanyut di dalam kertas-kertas, terus mengikuti permintaan sang kertas. Sebab jika aku tidak menurutinya, maka kertas itu akan marah, memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang kuberikan padanya. Kertas itu bahkan sama sekali tak pernah menolerirku, apapun alasanku, kertas itu tidak akan peduli. Jika aku tidak memberikan pelayanan yang baik untuknya, maka kertas itu akan lebih kejam lagi. Di tempat ini, kertas itu membentuk segala wujud emosi, menyikapi segala hal berdasarkan kertas, dan mengambil keputusan  dari kertas itu.

Tiada yang bisa marah, dan tiada yang dapat disalahkan, tapi hidup di tempat ini adalah hidup dengan kertas. Dan semua hal akan berlalu begitu saja, dengan berlalunya kertas ini.

Tak dapat tubuh ini meminta dan berkata lelah, bahkan mata ini menangis sekali pun tak dapat menghentikan semuanya. Kertas telah mengatur, kertas telah memintanya demikian, dan kertas tidak menjanjikan apapun jenis alasan. Jika kertas itu kosong, maka kekosongan jugalah yang didapatkan. Kertas ini adalah karma yang tersirat, yang memberikan hasil sesuai dengan apa yang dituai.

Aku terdiam merasakan betapa pentingnya kertas-kertas ini, betapa berharganya ia. Lelah tentunya sangat melelahkan, bermain dengan kertas ini membuatku tak mampu memikirkan yang lain. Seolah waktuku hanya disibukkan dan terkonsentrasi untuknya, tak banyak hal yang dilakukan, kecuali bermain dengannya. Ingin sekali rasanya istirahat, melupakan semua tentang kertas itu dan membiarkan si otak tertidur lelap, sehari tanpa kertas. Kertas ini begitu membuatku berada di dalam kekakuan.

Jadi untuk tempat ini, demi menjadi apa yang mereka pikirkan, mengikuti semua aturan kertas hanya untuk menjadi orang yang berguna, mencari sesuatu yang dinamakan kebahagiaan. Aku menuruti kemauan kertas ini, tanpa menyalahkan siapapun, dan tanpa mencari alasan untuk tidak memuaskan si kertas. Di tempat ini, aku hidup karena kertas, dan mati karena selembar kertas juga. Sebab kertas ini adalah value added dari pencapaian tempat ini, yang akan menjadikan nilai tambah terhadap diriku ketika aku telah siap dan matang untuk diproduksikan oleh tempat ini, sebuah tempat yang disebut sebagai sekolah. Aku membiarkan diriku mengikuti arus permintaan sang kertas.

 

[Kontributor: Dina Marito]

 

Nama:
Email:
Komentar:
   
Catatan : Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Kirim Komentar Anda

berikut ini adalah kumpulan komentar dari artikel ini
 
3qWi01bjmRD
2016-06-28 - 21:36:05
Learning a ton from these neat arteilcs. http://mugwkkg.com [url=http://jwniyenrgtk.com]jwniyenrgtk[
 
YqQWaaeYEjx
2016-06-26 - 21:12:48
What a pleasure to find someone who ideiinftes the issues so clearly http://oawgqaod.com [url=http:/
 
XwD8Qn92kGxk
2016-06-25 - 22:00:09
Plneisag to find someone who can think like that

Media Center STAN