kursus komputer

Advertorial

Bedah Buku: "Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk"

Bedah Buku "Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk" / Dok. Media Center PKN STAN

Minggu (19-6-2016) Acara bedah buku dalam rangkaian Gema Ramadhan bersama Ahmad Rifa’i Rif’an bertempat di Gedung G, PKN STAN.

Acara yang dimulai pukul 07.00 WIB ini dibuka dengan jargon oleh MC dan dilanjutkan tilawah dari seorang hafiz dan dilanjutkan dengan pengenalan rumah zakat. Kemudian sampai di acara inti yaitu bedah buku, kali ini buku dengan judul “Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk” akan diuraikan isinya oleh sang penulis, Ahmad Rifa’i Rif’an, serta Beni Iskandar selaku moderator. Buku ini sangat “nyentrik dan aneh” karena judulnya, tetapi isi dari buku ini sangat bermakna. Para peserta yang hadir sangat antusias bertanya kepada Ahmad Rifa’i. Secara singkat, Ahmad Rifa'i menjawab satu persatu pertanyaan.

Dimulai dari pertanyaan pertama mengenai waktu. Hendaknya kita melakukan setiap tindakan dengan niat untuk beribadah dan jangan sampai ada pelanggaran dalam prosesnya. Gunakanlah waktu duniawi kita untuk mendapatkan akhirat kita. Ahmad Rifa'i Rif'an menggambarkan filosofi padi dan rumput. Jika kita menanam padi maka rumput ikut tumbuh, namun jika kita menanam rumput maka tak akan ada padi yang tumbuh. Jika kita berniat untuk mendapatkan akhirat, maka dunia akan mengikuti. Akan tetapi, jika kita berniat untuk mendapatkan dunia saja maka kita tidak akan mendapatkan akhirat sama sekali.

Kemudian, jawaban dari pertanyaan berikutnya adalah kita hidup tak boleh asal bisa hidup. Misalkan begini, ada teman Ahmad Rifa'i yang mendapatkan IP terbaik di kampusnya secara konsisten terus-menerus. Ketika masuk kelas, ia tidak pernah berniat untuk mendapatkan IP terbaik, bahkan ia tidak peduli apakah ia lulus atau tidak. Namun, temannya itu berniat untuk beribadah mendapatkan ilmunya sehingga ia mendapatkan pahala sekaligus dengan ilmunya. Selain itu, ia juga memiliki kebiasaan belajar usai salat tahajud hingga salat subuh, meskipun di waktu pagi hingga sore ia sibuk dan aktif bergaul dengan teman-temannya. Hal itu ada benarnya juga. Berdasarkan riset, satu jam sebelum dan sesudah subuh merupakan jam terbaik untuk berkarya dan belajar.

Ahmad Rifa’i juga menyampaikan sebagai anak muda kita harus mempunyai mimpi yang tinggi, jangan mau seperti air mengalir karena air mengalir daari tempat tinggi ke rendah. Ahmad Rifa'i kembali menjelaskan kata-kata dari Ust. Sobari, "Anak muda saat ini lebih lambat dibanding anak muda masa lalu. Kenapa? Karena anak muda sekarang terlalu sibuk dengan hal sepele, seperti pacaran, patah hati, cinta. Sedangkan anak muda puluhan tahun lalu sudah berpikir tentang bagaimana caranya untuk berkontribusi pada semua umat." Berkontribusilah sebesar mungkin dan berprestasilah sebaik mungkin. Tiga tahun belajar di PKN STAN, gunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar, berkontribusi, dan meningkatkan potensi diri.

Satu hal lagi sebelum acara ditutup, Ahmad Rifa'i berpesan "Jangan Salah Gaul". Selektiflah dalam memilih sahabat, selektif pilih komunitas, jangan asal! Karena dari satu kota yg sama? Jangan!

[Ahmad Hafidz Fauzan]

Nama:
Email:
Komentar:
   
Catatan : Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Kirim Komentar Anda

berikut ini adalah kumpulan komentar dari artikel ini
 
r4aEck31WOGa
2016-08-06 - 18:51:17
Thierry, pouvez-vous me dire brièvement ce que veut dire &loneo;&qbsp;vursian béta »

Media Center STAN