Air Putih STAN
Malam itu, (7/7) sekilas tak ada yang lain dari Plaza Mahasiswa, kecuali poster 2×3 terpampang bertuliskan “Air Putih STAN”. Kami, awak Media Center STAN yang menerima undangan via Facebook, segera bergabung, berlesehan bersama hadirin yang lain.
Di sekitar kami, duduk pula berbagai tokoh mahasiswa di Kampus. Mulai dari Wapresma, Menhumpol beserta staf, hingga personel BLM yang turut berpartisipasi dalam acara ini.
Menurut Johana L. Wibowo, salah satu penggagas acara, tujuan Air Putih ini adalah menyediakan sarana berdiskusi secara rutin. Adapun bahan diskusi akan berkisar pada segala hal mengenai Kampus STAN dan lingkungan kerja mahasiswa STAN kelak. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Kiprah Mahasiswa STAN di Dunia Kerja.”
Acara dibuka dengan sambutan berupa motivasi dan latar belakang diadakannya diskusi pekanan ini. Johana Wibowo dan Mahadir bergantian memberi pengantar. Mahadir mengajak mahasiswa untuk tidak terlalu mengkhawatirkan indeks prestasi. Pasalnya, meskipun kemampuan teknis itu penting, namun peran yang dihasilkan oleh kemampuan teknis tersebut tidak terlalu signifikan di dunia kerja nantinya.
Sebuah gagasan besar sempat dilontarkan Mahadir: menghapuskan sistem DO berdasarkan IP, atau paling tidak, menurunkan standar IP tersebut. Gunanya? “Untuk memancing partisipasi mahasiswa di dunia keorganisasian mahasiswa,” jawabnya simpel.
Organisasi mahasiswa, lanjutnya, berperan penting dalam membentuk soft skill mahasiswa. Dan yang tak kalah penting, organisasi juga mengajarkan makna kepedulian dan rasa tanggung jawab. Ia mengaitkan urgensi tersebut dengan sebuah momen di kelasnya. Saat itu, salah satu dosen Mahadir bercerita tentang Gayus yang dulu pernah jadi anak didiknya. Dosen ini sampai meneteskan air mata karena sangat kecewa ada anak didiknya yang melakukan tindakan tercela seperti itu. Tindakan Gayus ini tentu berkaitan dengan minimnya kadar kepedulian dan tanggung jawab yang ia miliki, dua aset yang sebenarnya bisa dipenuhi oleh kehidupan keorganisasian.
Mengenai kasus Gayus, Prasetyo Budiawan, mahasiswa DIII Khusus yang kemudian didaulat sebagai pembicara, menanggapi dengan santai. “Gaji kami sudah cukup, kalau kita bisa hidup hemat. Memang nge-pas, tapi jelas kita harus bisa mengaturnya,” ungkapnya.
Berkaitan dengan keahlian mahasiswa STAN, ia mengungkapkan argumen klise,“Kalau kemampuan teknis, serahkan pada anak STAN. Faktanya, bila tidak ada anak STAN di sebuah kantor, laporan keuangan itu nggak beres. Tapi untuk urusan memegang jabatan, serahkan pada anak sarjana yang lain.”
Sedangkan Didik Hendriawan punya pandangan yang cukup berbeda. Mahasiswa DIII Khusus Spesialisasi Perpajakan ini berkata bahwa tiap manusia punya sisi negatif maupun positif. Menurutnya, yang perlu dilakukan adalah mempertahankan idealisme sekaligus loyalitas pada masyarakat. Hal ini perlu keahlian.
Dirinya menambahkan, sekarang sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik. “Dulu, ada anggapan bahwa pegawai itu bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan,” paparnya.
Mengenai kebersamaan dan aktivitas interpersonal lainnya, ia berkata bahwa hampir semua lulusan STAN punya solidaritas kuat. Didik berharap, keterikatan tersebut tidak hanya berkisar pada rekan yang sekampus. Sebab bagaimanapun, katanya, semua pegawai yang sudah di rantau harus lebih bisa membaur dengan rekan-rekan kerjanya.
Lebih jauh mengenai kiprah mahasiswa di dunia kerja, senada dengan Prasetyo Budiawan, ia berkata bahwa kemampuan teknis mahasiswa STAN sudah tidak diragukan lagi. Tapi yang perlu diperhatikan adalah gesekan-gesekan di dunia kerja yang tidak perlu. Di sinilah, menurut Prasetyo, kepemimpinan menjadi sangat penting sebagai solusi. “Karakter kerja di kantor itu, 60% dibentuk oleh kepala kantor,” terangnya. Aspek lain yang perlu disoroti adalah mengenai produktivitas. “Janganlah pertambahan usia membuat Anda jadi lamban, nggak puny ide, cuma bisa ngomong, nggak bisa kerja sama, dan urang konstruktif,” pungkasnya.
[Reza Syam Pratama]

4 Comments
Sekarang ada forum diskusi ya? Bagus.
Saya ikut diskus boleh kan?
kalo saya tidak setuju dengan Mas Mahadir.
Menghapus DO atau menurunkan standar IP dengan memancing aktivitas keorganisasian mahasiswa hubungannya tidak signifikan. kalo memang organisasi ya organisasi, ga perlu khawatir IP turun. banyak kok sejarah aktivis STAN yang IPnya tetap tinggi. misalnya pak Roy Martfianto, sekarang dosen, dulu Presma dengan IP summa cumlaude. atau pak Syahrawi Munthe, sewaktu menjadi Ketua MBM juga bisa dapat predikat IP sangat memuaskan (yg nilainya hampir terpuji).
mahasiswa berorganisasi itu pilihan mereka. banyak juga kan dikampus, mahasiswa PMDK yang ga berorganisasi.
janganlah organisasi dikambinghitamkan atau dijadikan alasan rendahnya IP. atau lebih parahnya lagi yg saya khawatirkan, organisasi dijadikan kesempatan untuk bermalas2an toh kalopun IP rendah masih tetap lulus. semoga tidak seperti itu.
di atas saya tolong di blacklist ikut diskusi….
hahahahaha…
kayaknya temennya mas maman yaa yang di atas itu??? Hehehe….
Makasih pencerahannya ya mas… ^^
Kalo pendapat saya, nilai IP juga termasuk bukti komitmen seorang mahasiswa atas tanggungjawabnya lho!! so bagi para aktivis yang menurut saya justru komitmennya lebih meyakinkan harusnya lebih termotivasi untuk mendapat IP ideal. Semangat bwat Air putih n para aktivis (organisasi, UKM, Kosan, BO, LPM, LK, BLM, BEM, interest club, gamers, futsalers, dll)!!!!