Psikologi Obyektivitas Media
Kita akan sepakat bahwa awak media adalah manusia sehingga produk media adalah hasil kreativitas manusia. Kita tidak akan mengabaikan obyektivitas. Namun, timbul pertanyaan, apakah safeguard berupa regulasi etika untuk awak media sudah cukup memadai untuk mewujudkan obyektivitas media?. Apakah metode ilmiah sudah mencukupi untuk menghindarkan jurnalis dari subyektivitas dan parsialitas?
Dalam konteks ini, relevan dibicarakan mekanisme framing media. Framing adalah metode penyajian realitas di mana kebenaran tidak diingkari secara total, tetapi dibelokkan secara halus: dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu, dengan menggunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi spesifik, dengan bantuan foto karikatur atau ilustrasi lainnya. Framing juga dapat dimaknai sebagai tindakan menyeleksi aspek realitas yang tergambar dalam teks, lalu membuat aspek realitas itu lebih menonjol dari aspek-aspek yang lain.
Proses framing berkaitan dengan strategi pengolahan dan penyajian informasi dalam hubungannya dengan rutinitas dan konvensi profesional jurnalistik. Dominasi sebuah frame dalam suatu wacana berita bagaimana pun dipengaruhi oleh proses produksi berita di mana terlibat unsur-unsur redaksi: reporter, redaktur, dan lain-lain. Dengan kata lain, proses framing merupakan bagian integral dari proses redaksional media massa dan menempatkan awak media (baca: wartawan) pada posisi strategis.
Awak media tanpa disadari menerapkan standar kebenaran, matrik obyektivitas, serta batasan etika tertentu dalam mengolah dan menyuguhkan informasi. Awak media juga lazim membatasi atau menafsirkan komentar suatu berita, memberi porsi pemberitaan yang berbeda terhadap sumber berita, serta mengemas sesuatu masalah dengan perspektif, gaya bahasa, retorika, dan common sense yang mereka kehendaki. Mereka juga lazim menguraikan gagasannya, menggunakan gaya bahasanya sendiri, menjabarkan skema interpretasinya sendiri, serta mendistribusikan retorika-retorika untuk meneguhkan keberpihakan atau kecenderungan tertentu. Untuk menekankan pengaruh awak media dalam proses-proses framing realitas media, Dorothy Nelkin dalam SellingScience: How the Press Covers Science and Technology, menyatakan:
- By their selection of newsworthy events, journalist identify pressing issues
- By their focuson controversial issues, they stimulate demands for accountability
- By their use of images (’frontiers’,’struggles’), they help to create the judgmental biases that underlie public policies
Menurut Robert M. Entman dalam Journal of Communication, teori media framing menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugasnya jurnalis tidak hanya dibekali dengan pemahaman tentang news value, tetapi juga semacam story line yang mengkondisikannya melakukan seleksi dan reduksi atas begitu banyak peristiwa dan informasi yang secara cepat dan rutin harus mereka sajikan kepada publik. Story line bekerja secara otomatis dan kurang disadari dalam menggiring awak media untuk memprioritaskan sumber berita, memparafase pernyataan, atau mengedepankan perspektif tertentu sehingga suatu interpretasi lebih noticeable dari yang lain.
Epilog (dalam Catatan-catatan Jurnalisme Dasar Luwi Ishwara)
Selama masih ada kehidupan manusia, selama itu pula jurnalisme akan ada. Manusia berubah, peradaban berubah, teknologi berubah, begitu pula jurnalisme.
Perubahan-perubahan yang begitu pesat saat ini terasa membingungkan, baik bagi masyarakat yang menjadi pembaca-pendengar-pemirsa maupun mereka yang bergerak di bidang jurnalisme. Bila kita menginginkan kepastian, kita teringat pada kata-kata Debra Gersh Hernandez: yang pasti dan tidak berubah dalam industri media massa adalah justru ketidakpastian dan perubahan. Namun, dalam kegalauan mencari jalan keluar dari kebingungan dan ketidakpastian ini, kita juga diingatkan oleh Michael Oreskes dengan kiasan kapal Titanic-nya. Bagaimana pun hebatnya suatu kemajuan yang mengakibatkan dahsyatnya perubahan, semua itu berpulang pada mutu manusianya, manusia yang berada di belakang kemudi, manusia yang menjalankannya. Begitu pula, jurnalisme yang hidup bersama manusia.
[Fauziyyah Arimi/Medi Kurniawan]
(*dari berbagai sumber)
No Comments