Bumbu Dapur Majalah Tempo: Jangan Main-Main (Dengan Tulisanmu)

Oleh: admin
July 6, 2010

Bangunan di Jl. Proklamasi No. 72 itu benar-benar lebih mirip ruko. Minimalis, hanya tiga petak ke samping dengan empat lantai. Pintu masuknya pun menyempil di pojok, sejenis pintu minimarket versi dua kali lebih kecil. Tak ada penanda apapun bahwa gedung ini merupakan rahim bagi salah satu majalah terbesar di Indonesia, kecuali billboard sederhana di halaman parkirnya.

Saat menyambangi markas majalah Tempo (5/7) ini, kami, 24 awak pers Kampus STAN dijamu di ruang rapat yang sama minimalisnya: hanya terisi kursi-kursi melingkari meja panjang, serta meja satu lagi untuk tempat konsumsi dan kopi.

“Tapi di kursi yang Anda tempati itu, bahkan SBY, Jusuf Kalla dan Tomy Winata pernah duduk di situ,” kata Budi Setyarso, Redaktur Utama majalah Tempo sembari menunjuk sisi kursi yang kami tempati. Grup Tempo sendiri memiliki tiga gedung operasional, dan yang kami sambangi saat itu memang khusus untuk dapur majalahTempo.

Purwani Diyah Prabandari , seorang Redaktur yang turut mengantar tur singkat kami ini hanya mengulas senyum. “Memang tidak banyak, adanya ya begini ini.” Begini ini: Sempit dengan kubikel-kubikel mini. Penutup lantai plastiknya sudah pudar di mana-mana. Di pojokan terdapat ruang 2x2m bersekat kayu. Tampak seorang petinggi redaksi sedang santai mengongkang kaki di atas meja. “Memang ini kultur khasnya Tempo,” jelas Ndari, sapaan akrab Prabandari, dengan bangga,”sederhana, tanpa gap sama sekali. Ini yang saya tidak yakin ada di media lain.”

Beberapa sampul majalah Tempo pilihan dan bersejarah terpajang di dinding. Seperti yang ber-headline kasus pembelian kapal bekas Jerman Timur yang menyeret B. J. Habibie (sekaligus menyeret Tempo dalam pembredelan) serta kasus pemerkosaan warga keturunan Cina saat kerusuhan ’98, mengingatkan bahwa kesederhanaan tak harus berbanding lurus dengan kualitas.

Pun, idealisme majalah yang punya sejarah dibredel tahun ’94 sehingga vakum empat tahun ini tetap terjaga. Dari proses recruitment, sengaja dipilih awak yang sudah ‘jadi’ dan sepandangan. Wartawan muda umumnya dikerahkan untuk mengasuh Koran Tempo dan Tempo Interaktif. Yang sudah kenyang berkarir di situ, baru lantas hijrah ke majalah. Tak ayal, jam terbang kombatennya sudah tinggi. Staf termuda majalah Tempo sendiri berusia 28 tahun.

Meskipun kultur egaliternya jelas, sanksi bagi pelanggar tetap berjalan tanpa toleransi. Reporter Tempo yang melakukan pelanggaran, akan diberi Surat Peringatan tiga kali sebelum dikeluarkan. Namun, untuk kasus penerimaan amplop dari narasumber atau menulis berita palsu, pelanggar spontan didepak tanpa tedeng aling-aling.

Siklus produksi majalah yang bersifat mingguan juga tidak memberi ruang bagi keteledoran. Dimulai rapat perencanaan awal, pukul 11 tepat di hari Senin, seluruh kompartemen akan mengusulkan apa yang mereka tulis untuk minggu depan. Hari Selasa ada evaluasi konten, dan Rabu rapat lagi, mengecek sampai mana bahan yang didapat, diteruskan, diubah angle-nya atau di-drop sama sekali. Di sinilah berita disaring.

Hari Senin juga digelar rapat opini yang hanya diikuti selevel redaktur pelaksana, dan dihadiri senior serta pakar-pakar yang kredibel. Di sini, pemberitaan Tempo dibahas: apakah sikapnya sudah benar, bagaimana bahasa, kualitas suntingan dan sebagainya untuk mengawal idealisme dan tulisan bercita rasa Tempo. Dalam seminggu itu, bahan berita yang ada akan ‘dibantai’, diuji kelayakannya. “Berita yang kita tulis haruslah eksklusif, belum banyak ditulis media lain, dan yang terpenting, bermanfaat bagi masyarakat,” papar Budi.

Budi sendiri sudah kenyang asam-garam reportase. Ketika ditanya tentang tekanan yang dihadapi Tempo yang sering menuliskan isu kontroversial, ia hanya tertawa. Menurutnya, sudah hukum alam jika jumlah liputan berbanding lurus dengan banyaknya gugatan. “Setiap tahun pasti ada kasus, besok juga kita akan ke Dewan Pers untuk memberikan konfirmasi (terkait kasus dengan Mabes Polri),” jawabnya santai.

Bagaimana bisa tetap bertahan? “Kemarin itu (1/7) tokoh-tokoh masyarakat dan LSM datang ke sini. Lalu saat melawan Tomy Winata di pengadilan, Tempo mendapat pembelaan pro bono dari Soerjadi. Dukungan-dukungan seperti itu banyak sekali, dan selalu mengalir. Itulah yang bikin kita mikir, “Oh, kita bener nih,” dan maju terus,” kenang Ndari,”bagaimanapun juga ‘tuhan’-nya media, ya publik.”

Budi juga menggarisbawahi, itu resiko, karena media massa itu memang berpihak. “Netral tidak harus naïf. Dan (tepatnya) bukan netral, tapi bagaimana memperlakukan berita dengan fair.” Di sisi inilah, jelas Budi, verifikasi berulang kali jadi vital. “Narasumber kami harus kompeten dan memang tahu langsung, bukan dia dengar dari orang lain. Inipun masih harus dicek ke banyak narasumber lain,” tuturnya.

Kunjungan pun berlanjut dari ruang rapat ke lantai atas. Melalui jalan sempit dan tangga berbunyi jika diinjak, kami melongok lantai dua. Lantai sempit itu mayoritas diisi meja-kursi-komputer-kertas. Lorong antar kubikel atau ruang sebelah harus dilewati satu-satu karena tak muat. Ada satu lemari sangat ala anak kos: ditempeli berupa-rupa stiker, dari soal pembunuhan wartawan, stiker kampanye caleg, sampai poster bergambar Sri Mulyani yang diedit jadi cowboy bertopi. Lantai ini selain dijejali perangkat kerja dan tumpukan kertas-koran berserakan, juga turut diberantaki barang-barang pribadi. Isinya tak rapi, tapi akrab dan punya cerita.

Saat turun, kami sempat disapa, “Oh, ini murid-muridnya Idris (Idris Herawan, dosen STAN yang terseret kasus Gayus)? Titip salam ya!”

Dasar wartawan.

Sekilas info, sehari setelah kunjungan kami, kantor ini dilempari tiga bom Molotov. Tapi rasa-rasanya, saya bisa membayangkan mereka akan tetap rapat, berkutat dengan deadline sambil mengongkang kaki dan minum kopi seperti biasa.

Dan saat mewakili sebagai pekerja pemerintahan nanti, sosok-sosok seperti inilah yang mesti kita hadapi: satuan penyorot kritis sarat militan. Siapkah?

Category: Liputan Khusus, Mahasiswa | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback

5 Comments

Leave a Reply